Klub Bhineka asal Solo ini akan menantang juara bertahan Satria Muda Britama dalam laga berformat best of three. Jika kedua regu berbagi kemenangan, gim ketiga akan dilangsungkan pada Selasa, 6 Mei.
Semula subsidi promotor IBL adalah Rp 600 ribu per orang untuk tiket dan Rp 270 ribu per kamar untuk delapan kamar hotel.
“Kami sudah berusaha mencari tiket pesawat dengan harga sebesar subsidi tersebut, ternyata tak ada,” kata Halim Sugiarto, bos Bhinneka.
Bhinneka bahkan berencana tak berangkat ke Jakarta dan tak peduli ada sanksi menanti. “Biar jadi pelajaran buat IBL agar mereka mengerti bagaimana susahnya tim daerah,” kata Halim.
Beruntung niat itu sepertinya tak terlaksana. “Pak Nandang Roekanda, administrator IBL, meminta kami mengirim 16 nama yang akan ke Jakarta. Barangkali mereka mau membantu kami,” kata Halim.
Masalah dana dan subsidi ter-nyata tak mengganggu persiapan tim Bhinneka. “Soal berangkat atau tidak itu keputusan Pak Halim. Kami menurut saja. Tapi, tim ini tetap fokus menghadapi Satria Muda,” tegas pelatih Bhinneka, Ateng Sugianto.
Ateng sadar SM adalah lawan tangguh. “Mereka pasti akan berusaha terus mengajak bermain cepat. Karena itu fisik anak-anak harus siap,” katanya.
Ateng harus menyiapkan fisik pemain-pemain senior Bhinneka seperti I Made Sudiadnya, Dhannya Harahap, atau Pek King Dhay agar mampu meladeni Faisal J. Ahmad dkk.
Kalah dalam postur dan materi pemain tak membuat Bhinneka berkecil hati. Dua kekalahan di babak reguler tak lagi menjadi patokan.
“Sekecil apa pun peluang tetap kami manfaatkan. Bhinneka konsentrasi penuh menghadapi SM,” ujarnya.
Maaf anda tahu apa tntang IBL???
apakah anda pemain IBL????
mksud Konsentrasi penuh untuk semifinal IBL itu apa ya???
tlg isi komentar saya ya…
kira2 menang jadi juara gak ya?
i wonder